Suzuki mengonfirmasi rencana menghadirkan sebuah EV kota murah pada 2027, dengan harga di bawah £20.000. EV kota Suzuki ini diposisikan untuk bersaing langsung dengan model boxy seperti Honda Super-N dan memperkuat strategi merek menghadapi mandat emisi nol (ZEV).

Rencana itu disampaikan sebagai bagian dari upaya memperluas lini produk di Inggris, yang juga mencakup penguatan penjualan Swift dan eVitara. Manuver produk ini dinilai penting untuk membantu merek mencapai target penjualan elektrifikasi sekaligus mempertahankan pijakan di segmen pembeli pribadi.
Rencana produk dan jadwal peluncuran
Produk baru yang bernama produksi dari Vision e-Sky dijadwalkan meluncur pada musim semi 2027. Model produksi tersebut akan mempertahankan konfigurasi lima pintu dan proporsi tubuh yang tinggi dan kotak seperti pada konsep asalnya. Meski rincian tenaga penggerak masih minim, disebutkan bahwa kapasitas baterai sekitar 29 kWh untuk jangkauan sekitar 130 mil akan tipikal di kelas ini.
Keberadaan model ini akan menempatkan Suzuki lebih dekat terhadap rasio mandat 2027 yang mensyaratkan dua penjualan EV untuk setiap tiga penjualan ICE. Selain itu, model e-Sky akan membuka jalan bagi peluncuran EV ketiga Suzuki pada 2029, yang kemungkinan besar berupa SUV segmen B untuk mengisi celah e-Sky dan eVitara. CEO regional menegaskan, “It most definitely won’t be an electric Swift.”
Strategi penjualan dan performa di Inggris
Fokus Suzuki di pasar Inggris kini tertuju pada model yang memiliki daya tarik kuat bagi pembeli swasta. Swift menjadi ujung tombak kebangkitan merek, ditawarkan mulai dari £19.000 dan mencatat penjualan 6.000 unit pada kuartal pertama tahun ini. Kombinasi itu, bersama eVitara yang diperkirakan terjual 5.000 unit pada 2026 serta kontribusi dari model Vitara dan S-Cross, dipandang mampu mengembalikan volume penjualan ke level pra-2025, yakni sekitar 23.000 unit tahun ini.
Perubahan strategi sejalan dengan pengaruh mandat ZEV yang memaksa penyusunan ulang jajaran mobil berbahan bakar fosil. Menjelaskan pendekatan tersebut, kepala wilayah Inggris mengatakan, “I believe in concentrating on the controllables. The mandate is here and we all want to help the environment. We are embracing it.” Hasilnya, sejauh tahun ini penjualan Suzuki tumbuh lebih cepat dibanding merek mapan lain, naik 43% pada lima bulan pertama 2026 dan kembali menembus pangsa pasar di atas 1%.
Tantangan kompetitif dan pandangan pasar
Suzuki menyadari tekanan dari pemain baru, termasuk pembuat mobil asal Tiongkok yang telah menambah jumlah merek di pasar Inggris secara signifikan. Namun, kepala wilayah Inggris menyatakan keyakinannya bahwa dampak paling besar akan terasa oleh produsen yang lebih besar: “I’m not concerned. We are a 1% brand. The bigger legacy manufacturers will feel it more.” Ia juga menggambarkan kondisi pasar saat ini dengan istilah “3C” — “competitive, confused and conflicted”.
Selain menambah jajaran EV, strategi Suzuki juga mengandalkan efisiensi model ICE yang ada. Contohnya Swift dengan mesin tiga silinder 1.2 liter mild hybrid yang menghasilkan WLTP-certified 64.2 mpg dan emisi CO2 99 g/km, yang memberikan kredit ZEV di bawah Vehicle Emissions Trading Scheme.
Dengan kombinasi model listrik yang lebih terjangkau dan barisan ICE yang efisien, Suzuki berharap menjaga pertumbuhan sekaligus mematuhi persyaratan regulasi baru. Peluncuran Vision e-Sky menjadi titik penting dalam rencana tersebut, sekaligus sinyal bahwa Suzuki ingin tetap relevan di segmen kota yang semakin beralih ke elektrifikasi.
