Momen-momen dalam karier seorang pembalap seringkali ditentukan oleh rekan setimnya, dan Pierre Gasly memahami betul hal ini. Dalam sebuah wawancara mendalam dengan Formula1.com, Gasly kembali mengingat masa-masa sulitnya ketika dia duduk di sebelah Max Verstappen di tim Red Bull Racing. Dengan perasaan yang campur aduk, ia mengungkapkan bagaimana pengalaman tersebut membentuk dirinya sebagai pembalap saat ini.

Awal yang Sulit di Red Bull Racing

Gasly, yang awalnya mendapat kesempatan berharga untuk memperkuat tim Red Bull, merasa bahwa banyak fans telah menghakiminya terlalu cepat setelah serangkaian hasil yang tidak memuaskan. Dalam pandangannya, situasi yang dihadapinya sangat menantang, terutama dengan tekanan tinggi yang disematkan padanya sebagai pengganti Daniel Ricciardo. “Saya pergi ke sana dengan harapan tinggi, tetapi saya tinggal di bayang-bayang Verstappen yang sangat berbakat,” ungkap Gasly.

Pengaruh Rekan Setim

Menjadi rekan setim Verstappen bukanlah tugas yang mudah. Sementara Verstappen tumbuh menjadi salah satu bintang utama Formula 1, Gasly merasa terbebani oleh ekspektasi besar yang diharapkan dari dirinya. Di saat-saat tersebut, Gasly menyadari bahwa persaingan bukan hanya dengan pembalap lain, tetapi juga dengan dirinya sendiri. Rasa percaya diri yang awalnya ia miliki lambat laun memudar, menghasilkan periode yang sulit dalam kariernya.

Peran Engineer Berpengalaman

Gasly mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar selama masa kerjanya di Red Bull adalah minimnya pengalaman yang dimiliki tim tekniknya. Ia mendapatkan engineer yang lebih banyak berpengalaman dalam Formula E daripada F1, yang membuat komunikasi dan adaptasi menjadi lebih sulit. “Saya merasa seperti saya tidak mendapatkan dukungan teknis yang saya butuhkan untuk bersaing dengan Max secara efektif. Hal ini sangat frustasi,” tambahnya.

Kesedihan dan Pembelajaran

Dalam pernyataannya, Gasly tidak ragu mengaku bahwa periode tersebut adalah yang paling menyedihkan dalam kariernya. “Saya tidak akan berbohong, itu sangat menyedihkan, terutama ketika Anda tahu Anda bisa melakukan lebih baik tetapi hasilnya tidak menunjukkan hal itu. Saya merasa dikucilkan, dan banyak orang hanya melihat hasil tanpa memahami apa yang terjadi di balik layar,” jelasnya. Rasa kesedihan ini bukan hanya perasaan pribadi, tetapi juga mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak pembalap muda di ajang bergengsi seperti F1.

Transformasi dan Kembali Bersinar

Setelah masa sulit tersebut, Gasly kembali ke tim AlphaTauri dan mendapatkan kesempatan kedua yang membuatnya bangkit kembali. Dengan dukungan yang lebih baik dan lebih banyak pengalaman, ia berhasil tampil mengesankan dan bahkan meraih kemenangan di Sirkuit Monza. “Saya sangat bersyukur atas pengalaman itu. Itu semua adalah bagian dari perjalanan saya menuju menjadi pembalap yang lebih baik, dan saya belajar lebih banyak tentang ketahanan dalam menghadapi rintangan,” imbuhnya.

Pelajaran Berharga bagi Generasi Berikutnya

Pengalaman Gasly tidak hanya mencerminkan perjalanan pribadinya tetapi juga pelajaran penting bagi generasi pembalap berikutnya. Ia berharap kisahnya dapat menginspirasi pembalap muda untuk tetap berfokus pada perkembangan diri meskipun harus melalui saat-saat gelap. “Dukungan dari tim dan kepercayaan pada kemampuan diri sendiri sangat penting. Saya ingin menunjukkan bahwa kesalahan dan tantangan bisa diatasi dengan usaha dan dedikasi,” tutupnya.

Kesimpulan

Pengalaman Pierre Gasly di Red Bull Racing merupakan gambaran tentang betapa sulitnya dunia balap Formula 1. Dikenal sebagai ajang yang penuh dengan tekanan, Gasly menunjukkan bahwa perjalanan karier tidak selalu mulus. Dukungan teknis, rekan setim, dan kepercayaan diri merupakan faktor penting yang memengaruhi performa seorang pembalap. Meskipun pernah merasakan kegagalan, Gasly berhasil bangkit dan menjadikannya pelajaran berharga. Kini, dengan semua pengalaman itu, ia lebih siap dan percaya diri untuk menghadapi tantangan berikutnya di dunia Formula 1.

Facebook Twitter Instagram Linkedin Youtube