Penuh harapan dan tantangan, perjalanan Yuki Tsunoda di Red Bull Racing selama musim Formula 1 2025 tampak sangat berbeda dari yang diharapkan. Sebagai pembalap Jepang yang pernah dianggap memiliki potensi besar, Tsunoda harus menghadapi kenyataan pahit saat berkolaborasi dengan juara dunia Max Verstappen. Selama 22 balapan, perbandingan kinerjanya dengan Verstappen menunjukkan ketidakcocokan dan kesenjangan yang mencolok, yang menciptakan dinamika yang sulit dipahami di dalam tim.
Kendala Komunikasi dan Kerjasama di Tim
Tsunoda mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesarnya adalah beradaptasi dengan cara kerja di Red Bull, terutama dalam hal komunikasi antara pembalap dan tim teknik. Ia mencatat bahwa struktur tim di Red Bull, terutama dalam peran Gianpiero Lambiase sebagai kepala insinyur, memberi prioritas yang lebih tinggi pada Verstappen. Dalam wawancara dengan DAZN Jepang, Tsunoda menjelaskan, “GP adalah salah satu insinyur paling mengesankan yang pernah saya bekerja sama, tetapi jika Max menghadapi masalah, perhatian harus segera tertuju kepadanya.”
Pentingnya Kualitas Pekerjaan Tim
Kualitas komunikasi antara pembalap dan insinyur di Red Bull sangat menentukan dalam kesuksesan tim tersebut. Tsunoda menyadari bahwa meskipun tim insinyurnya terampil, mereka tidak memiliki pengalaman yang sama seperti tim Verstappen. Ia mengaitkan hal ini dengan ketidakmampuannya untuk mendapatkan dukungan yang diperlukan dalam situasi krisis. “Saya melihat bagaimana komunikasi antara GP dan Max berlangsung selama sesi latihan, dan saya menginginkan tingkat itu. Namun, ketika kita harus meminta sesuatu kepada orang lain, kita sudah tertinggal.”
Dynamika yang Berbeda Antara Tim
Kontras yang signifikan antara Red Bull dan tim satelit, Racing Bulls, memperkuat tantangan yang dihadapi Tsunoda. Ia terkesan dengan keberanian Red Bull untuk melakukan perubahan besar dalam setelan mobil, meski mendekati waktu kualifikasi. Tsunoda mengatakan, “Saya terkesan dengan pendekatan mereka untuk melakukan perubahan-penuh resiko ketika mobil tidak berfungsi dengan baik.”
Pentingnya Pembaruan Mobil
Di dunia F1 yang sangat kompetitif seperti 2025, setiap pembaruan bisa membawa pengaruh besar pada performa mobil. Tsunoda mengamati bahwa bahkan selisih kecil dalam performa dengan Verstappen dapat berakibat fatal baginya, ia menambahkan, “Bahkan perbedaan beberapa tempat di papan waktu bisa berarti perbedaan yang drastis dalam hasil akhir. Memberikan umpan balik dan menunjukkan nilai saya dalam lingkungan seperti itu sangat menantang.”
Berkaca ke Masa Depan
Dengan langkah mundur dari posisi pembalap utama di Red Bull, Tsunoda kini menjadi pembalap cadangan. Pada 2026, ia akan diharapkan membantu Max Verstappen dan Isack Hadjar. Meskipun ini mungkin tampak seperti mundur, Tsunoda perlu memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar dan tumbuh dalam lingkup tim yang kompetitif.
Kesempatan untuk Belajar
Menjadi pembalap cadangan pada dasarnya memberi Tsunoda kesempatan untuk menyerap strategi dan pelajaran dari Verstappen, yang tak diragukan lagi adalah salah satu yang terbaik dalam dunia balap saat ini. Dengan pengalamannya yang diakumulasi, Tsunoda berharap bisa lebih siap di masa depan, saat kesempatan baru muncul di depan mata, baik di Red Bull atau mungkin tim lain.
Dengan 2026 di cakrawala, harapan dan impian baru tetap menyelimuti keberadaan Tsunoda di Formula 1. Melalui pengalaman yang mungkin terasa pahit, ia dapat berlajar tentang dinamika tim dan tantangan yang dihadapi seorang pembalap profesional. Akankah ia bangkit kembali dengan lebih baik dan lebih siap? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
